| Pemain AC Milan, Luka Modric (kanan), dan pemain Roma, Zeki Celik, berebut bola dalam pertandingan Serie A, Senin (26/1/2026). (c) AP Photo/Gregorio Borgia |
SCORELINE - Keputusan AC Milan memboyong Luka Modric secara gratis pada musim panas 2025 terbukti menjadi langkah transfer paling jenius musim ini. Di bawah arahan Massimiliano Allegri, gelandang veteran asal Kroasia tersebut bertransformasi dari sekadar "pemanis skuad" menjadi jenderal lapangan tengah yang tak tergantikan bagi publik San Siro.
Dominasi Sang Maestro di Serie A
Meski telah memasuki usia kepala empat, Modric tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan performa. Ia dengan cepat beradaptasi dengan ritme Serie A yang taktis. Perannya sangat krusial dalam menjaga keseimbangan permainan Rossoneri, sekaligus menjadi mentor bagi para pemain muda di ruang ganti. Kehadiran Modric membawa Milan kembali kompetitif di papan atas klasemen dalam perburuan tiket Liga Champions musim depan.
Baca Juga : Derbi London yang Mengecewakan: Arsenal Tertahan, Eberechi Eze Jadi Sasaran Kritik Pedas
Pujian Jenaka dari Christopher Nkunku
Kualitas luar biasa Modric pun diakui oleh rekan setimnya, Christopher Nkunku. Penyerang tajam asal Prancis ini merasa beruntung bisa bermain bersama peraih Ballon d'Or tersebut. Dalam sebuah sesi wawancara, Nkunku melontarkan pujian sekaligus candaan terkait kemampuan teknik Modric yang di luar nalar.
"Luka itu luar biasa; dia punya kualitas unik dan visi umpan yang sangat istimewa. Jika saya mencoba meniru gerakan atau umpannya, mungkin pinggul saya bisa terkilir," ujar Nkunku sembari tertawa kepada Gazzetta dello Sport. Ia bahkan meyakini bahwa fisik Modric masih sanggup bersaing hingga usia 46 tahun.
Adaptasi Peran Bola Mati
Selain membahas Modric, Nkunku juga bicara mengenai perannya sebagai eksekutor bola mati. Meski dikenal sebagai spesialis tendangan bebas saat di RB Leipzig, Nkunku mengaku kini lebih banyak mengalah di Milan.
"Di klub sebesar ini, sudah ada pemain yang biasa mengambil peran tersebut. Saya harus beradaptasi dengan dinamika tim. Kita lihat saja apa yang terjadi di masa depan," tambah pemain berusia 28 tahun itu.
Sudut Pandang Scoreline (Analisis)
Kehadiran Luka Modric di AC Milan adalah contoh nyata bagaimana intelejensi sepak bola melampaui keterbatasan fisik. Di liga seperti Serie A yang sangat menekankan pada posisi dan kontrol tempo, Modric adalah kepingan puzzle yang sempurna untuk sistem Allegri yang pragmatis.
Sementara itu, komentar Nkunku mengenai "pinggul terkilir" bukan sekadar candaan, melainkan pengakuan terhadap body balance dan teknik trivela (umpan kaki luar) Modric yang memang sangat sulit diprediksi lawan. Tantangan bagi Milan adalah ketergantungan pada Modric; mereka harus segera menemukan suksesor yang memiliki visi serupa sebelum sang maestro benar-benar memutuskan gantung sepatu di usia yang tak lagi muda.
Bagaimana reaksi Anda?
0 Komentar