| Pemain AC Milan Luka Modric (kanan) merayakan gol pada laga Serie A/Liga Italia antara Pisa vs Milan, Jumat, 13 Februari 2026 (c) Instagram/acmilan |
Jalannya Pertandingan yang Alot
Duel ini berlangsung dengan intensitas fisik yang sangat tinggi. Milan sebenarnya memulai laga dengan baik melalui gol sundulan Ruben Loftus-Cheek. Namun, skuad asuhan Massimiliano Allegri sempat kehilangan momentum ketika Niclas Fullkrug gagal mengeksekusi penalti untuk menggandakan keunggulan.
Pisa, yang dikenal ulet, berhasil menyamakan kedudukan melalui aksi Felipe Loyola. Di saat laga tampak akan berakhir imbang, Luka Modric muncul sebagai pembeda. Bekerja sama satu-dua dengan Samuele Ricci, Modric melepaskan sepakan yang mengunci kemenangan Milan pada menit ke-85.
Baca Juga : Inter vs Juventus: Pertaruhan Takhta Serie A di Giuseppe Meazza, Siapa Lebih Tangguh?
Baca Juga : Pesta Gol di Piala FA: Kombinasi Maut Neto dan Delap Hancurkan Harapan Hull City
Rekor Bersejarah dan Chant "Maradona"
Gol tersebut menempatkan Modric dalam buku sejarah Serie A sebagai pemain tertua ketiga yang mampu mencetak gol di usia 40 tahun 157 hari. Ia kini hanya berada di bawah dua ikon besar AC Milan lainnya, Alessandro Costacurta dan Zlatan Ibrahimovic.
Apresiasi luar biasa datang dari suporter Rossoneri yang memadati tribun tandang. Mereka menyanyikan chant khusus yang biasanya didedikasikan untuk Diego Maradona. Menanggapi hal itu, Modric merasa sangat terharu. "Mendengar mereka menyanyikan lagu itu untuk saya adalah sebuah kehormatan besar. Saya sangat bahagia," ungkapnya.
Pujian Massimiliano Allegri
Pelatih Massimiliano Allegri tak segan melontarkan pujian setinggi langit untuk anak asuhnya tersebut. Menurut Allegri, kualitas teknis Modric sebanding dengan mentalitas juaranya yang luar biasa. "Kita semua harus belajar dari karakter dan kerendahan hatinya. Para pemain muda sangat beruntung bisa bekerja bersamanya setiap hari," tegas Allegri.
Sudut Pandang Scoreline
Kemenangan AC Milan atas Pisa ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, ketergantungan pada pengalaman: Di saat sistem permainan Milan buntu dan pemain muda mulai kehilangan fokus, ketenangan Modric menjadi solusi instan. Kedua, masalah klinis: Kegagalan penalti Fullkrug menunjukkan bahwa Milan masih memiliki isu konsistensi dalam penyelesaian akhir yang bisa berakibat fatal jika tidak ada momen magis dari pemain seperti Modric.
Secara taktis, Allegri berhasil memanfaatkan peran Modric sebagai late runner yang masuk ke kotak penalti di menit-menit akhir. Keputusan ini sangat tepat mengingat stamina pemain lawan biasanya sudah menurun. Hasil ini menjaga Milan tetap dalam jalur perburuan Scudetto, namun Allegri wajib membenahi koordinasi lini tengah agar tidak terlalu sering membiarkan lawan melakukan comeback.
Bagaimana reaksi Anda?
0 Komentar