| Pierre Kalulu mendapatkan kartu merah pada laga Inter Milan vs Juventus pada pekan ke-25 Serie A 2025/2026 (c) Marco Alpozzi/LaPresse via AP |
SCORELINE - Rivalitas panas antara Inter Milan dan Juventus kini bergeser dari lapangan hijau ke ranah hukum. Federico La Penna, sang pengadil lapangan dalam laga Derby d'Italia pekan ke-25, dikabarkan telah melaporkan serangkaian ancaman pembunuhan yang menargetkan dirinya dan keluarganya kepada pihak berwenang.
Titik Api: Kartu Merah Kontroversial Pierre Kalulu Segala kekacauan ini bermula dari keputusan La Penna yang mengusir bek Juventus, Pierre Kalulu, pada menit ke-42. Kalulu menerima kartu kuning kedua setelah dianggap melanggar Alessandro Bastoni. Namun, rekaman ulang justru menunjukkan indikasi kuat bahwa Bastoni melakukan diving untuk memancing wasit.
Berdasarkan regulasi Serie A, VAR tidak bisa mengintervensi kartu kuning kedua. Hal inilah yang membuat keputusan La Penna bersifat final di lapangan, sekaligus menutup peluang tindakan retrospektif dari otoritas liga, meski tayangan ulang berbicara sebaliknya.
Baca Juga : Kemenangan Madrid atas Sociedad: Bukti Vinicius Lebih "Ganas" Tanpa Mbappe?
Teror Digital yang Melampaui Batas Pasca kemenangan dramatis Inter 3-2, kekecewaan suporter berubah menjadi tindakan kriminal. Laporan dari Corriere dello Sport menyebutkan bahwa La Penna menerima gelombang ancaman pembunuhan melalui media sosial. Yang lebih mengerikan, intimidasi tersebut juga menyeret anggota keluarganya, sehingga memaksa sang wasit untuk mencari perlindungan hukum.
Gianluca Rocchi, selaku penunjuk wasit Serie A, mengakui adanya kekeliruan dalam pengambilan keputusan tersebut dan menyatakan bahwa La Penna sangat terpukul secara mental.
Langkah Hukum dan Status Jabatan Investigasi resmi kini telah dibuka oleh kepolisian dan kantor kejaksaan Italia untuk melacak dalang di balik ancaman tersebut. Sebagai langkah pengamanan dan pemulihan mental, La Penna dipastikan "diistirahatkan" dari tugas memimpin laga pada akhir pekan ini. Namanya diprediksi baru akan muncul kembali pada pekan berikutnya, itu pun kemungkinan hanya sebagai wasit keempat atau petugas VAR.
Sudut Pandang Scoreline
Apa yang dialami Federico La Penna adalah sisi gelap dari fanatisme sepak bola yang sudah tidak sehat. Keputusan wasit yang keliru memang menyakitkan bagi klub dan fans, namun membawa perselisihan olahraga ke ranah ancaman nyawa dan keluarga adalah tindakan pengecut yang tidak bisa ditoleransi. Kasus ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi otoritas Serie A untuk meninjau kembali protokol perlindungan wasit serta regulasi VAR yang masih menyisakan celah dalam situasi kartu kuning kedua yang krusial.
Bagaimana reaksi Anda?
0 Komentar