| Pemain Manchester United Diogo Dalot, Matheus Cunha, dan Lisandro Martinez merayakan kemenangan dalam laga Liga Inggris melawan Newcastle, Sabtu, 27 Desember 2025. (c) AP Photo/Dave Thompson |
SCORELINE - Ruben Amorim perlahan menunjukkan tanda-tanda perubahan di Manchester United, dengan struktur permainan yang mulai terlihat lebih jelas. Kemenangan tipis atas Newcastle United di Old Trafford menjadi bukti bahwa tim mulai mengarah ke arah yang positif.
Namun, di balik kemenangan tersebut, ada masalah yang terus menghantui. Manchester United masih kesulitan menjaga kontrol atas pertandingan, terutama saat unggul dan harus bertahan lebih lama dari yang diinginkan.
Amorim pun mengakui kendala ini. Ia menyebut bahwa meskipun fondasi tim mulai terbentuk, proses evolusi yang diinginkan masih jauh dari kata sempurna.
Evolusi Amorim: Bukan Sekadar Mengubah Formasi
| Pemain Manchester United, Patrick Dorgu (tengah kiri), mencetak gol pada laga Premier League antara Manchester United vs Newcastle, 26 Desember 2025 (c) AP Photo/Dave Thompson |
Sejak kedatangannya di Old Trafford pada November 2024, Ruben Amorim telah menekankan bahwa perubahan besar tidak akan terjadi dalam semalam. Ia pernah membandingkan pergantian sistem tim dengan meminta Paus untuk mengubah keyakinan, sebuah metafora yang menggambarkan betapa pentingnya proses dan tahapan dalam setiap perubahan.
Dalam sebuah konferensi pers pada bulan September, Amorim kembali menegaskan bahwa evolusi tim adalah suatu keniscayaan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa setiap langkah yang diambil harus mempertimbangkan dampaknya terhadap tim secara keseluruhan.
Pendekatan ini tercermin jelas dalam fleksibilitas taktik Manchester United di bawah asuhan Amorim. Meskipun dikenal dengan penggunaan sistem tiga bek, Amorim tidak terpaku pada satu formasi saja. Struktur permainan tim bisa berubah sesuai dengan fase pertandingan, mulai dari build-up yang rapi, pressing tinggi, hingga bertahan dengan blok rendah untuk menghadapi tekanan lawan.
Variasi Bentuk MU di Bawah Amorim
| Lisandro Martinez mencoba melewati adangan Sandro Tonali di laga MU vs Newcastle (c) AP Photo/Dave Thompson |
Meskipun di atas kertas Manchester United sering tampil dengan formasi tiga bek, pada kenyataannya struktur tim sering kali mengalami perubahan. Dalam beberapa pertandingan awal, United bahkan menekan lawan dengan formasi yang menyerupai 4-4-2.
Sebagai contoh, dalam pertandingan melawan Bournemouth, Amad berposisi lebih tinggi daripada Diogo Dalot dalam formasi yang mirip dengan 3-4-3, meski terkesan timpang. Sementara itu, saat menang 1-0 atas Newcastle United, tampak jelas bahwa United mengadopsi struktur seperti 4-2-3-1 saat menguasai bola, dengan Matheus Cunha yang bergerak bebas di sisi kiri.
Perubahan paling mencolok terjadi saat bertahan di blok menengah. Dalam beberapa laga terakhir, United meninggalkan pola lima bek yang sebelumnya sering digunakan. Mereka lebih sering bertahan dengan variasi formasi seperti 4-4-2, 4-3-3, hingga 4-2-3-1, tergantung pada lawan dan situasi pertandingan yang dihadapi.
Disiplin Bertahan MU yang Menekan Newcastle
| Pemain Manchester United, Patrick Dorgu, merayakan gol pembuka yang dicetaknya dalam laga Liga Inggris melawan Newcastle di Old Trafford, Sabtu, 27 Desember 2025. (c) AP Photo/Dave Thompson |
Keputusan Ruben Amorim untuk menggunakan formasi 4-2-3-1 saat bertahan melawan Newcastle tidaklah tanpa alasan. Menghadapi tiga gelandang lawan yang agresif dan dinamis, United memilih pendekatan penjagaan ketat guna mengimbangi ancaman yang ditimbulkan.
Di babak pertama, Mason Mount, Manuel Ugarte, dan Casemiro menunjukkan kedisiplinan luar biasa. Mereka terus menempel pergerakan Bruno Guimaraes, Jacob Ramsey, dan Sandro Tonali, sementara Lisandro Martinez atau Ayden Heaven ikut naik untuk menekan penyerang lawan yang turun ke tengah.
Pendekatan ini terbukti efektif. Newcastle kesulitan menemukan ruang di antara lini pertahanan United, dan ancaman mereka sebagian besar bisa diredam. Bahkan ketika lini belakang United terpaksa bergeser akibat overload di sisi sayap, Casemiro dan Ugarte cepat menutup celah yang terbuka.
Dari sisi defensif, babak pertama ini bisa dianggap sebagai salah satu penampilan terbaik Manchester United di bawah kepelatihan Amorim.
Babak Kedua Man United: Ketika Kontrol Mulai Hilang
Masalah mulai muncul setelah jeda. Intensitas bertahan yang tinggi mulai menguras stamina dan konsentrasi para pemain. Untuk mengatasi hal ini, Ruben Amorim melakukan pergantian pemain, memasukkan Joshua Zirkzee dan Leny Yoro, sambil mengubah peran pemain sayap guna menahan tekanan dari sisi lapangan.
Di sisi kanan, Dalot didorong lebih tinggi, sementara Patrick Dorgu dipindahkan ke kiri. Langkah ini jelas bertujuan memberikan perlindungan ekstra bagi bek sayap yang sedang menghadapi ancaman dari lebar lapangan yang digerakkan oleh Newcastle.
Namun, seiring berjalannya waktu, United mulai kehilangan kendali atas pertandingan. Gelandang-gelandang Newcastle tidak lagi mendapat pengawasan ketat seperti di babak pertama. Pergerakan tanpa bola dari Guimaraes dan Tonali menciptakan ruang yang cukup signifikan, terutama di 10 menit terakhir, ketika United terpaksa bertahan dalam posisi yang sangat dalam.
Usai pertandingan, Amorim mengakui situasi ini. Ia merasa timnya harus menderita lebih banyak daripada pertandingan lainnya, meski ia merasa puas dengan semangat para pemain yang rela mengorbankan tubuh untuk menghalau setiap bola yang datang.
Bagi Amorim, inti dari masalah tersebut dapat dirangkum dalam satu kata: kontrol. Minimnya penguasaan bola di babak kedua memaksa Manchester United untuk terus bertahan, yang akhirnya menguras tenaga dan fokus tim.
Bagaimana reaksi Anda?
0 Komentar