| Kylian Mbappe merayakan golnya di laga Real Madrid vs Levante, Sabtu (17/01/2026). (c) AP Photo/Jose Breton |
SCORELINE - Awal perjalanan Alvaro Arbeloa sebagai pelatih Real Madrid langsung dipenuhi warna. Tiga laga pertama menghadirkan cerita yang saling bertolak belakang: hasil mengejutkan yang memicu kritik, kemenangan hambar yang belum memuaskan, hingga pesta gol yang membangkitkan kembali gairah Eropa di Santiago Bernabeu.
Dalam kurun waktu singkat itu, Los Blancos mencetak total 10 gol. Catatan produktif tersebut menjadi sinyal positif dari pendekatan agresif yang dibawa Arbeloa. Intensitas tinggi, keberanian mengambil risiko, dan dorongan menyerang tanpa ragu mulai terlihat dalam permainan Madrid.
Namun, di balik ledakan gol tersebut, stabilitas masih menjadi pekerjaan rumah. Transisi bertahan kerap goyah, sementara konsistensi performa belum sepenuhnya terjaga dari satu laga ke laga lain. Madrid tampak berani, tetapi belum sepenuhnya matang.
Situasi ini memunculkan kembali perdebatan klasik di kalangan Madridista. Apakah gaya menyerang yang mulai terlihat ini merupakan fondasi identitas baru Madrid di era Arbeloa, atau hanya letupan sementara yang lazim muncul di fase awal pergantian pelatih?
Satu hal yang pasti, Arbeloa telah membawa emosi kembali ke Bernabeu. Madrid belum sempurna, namun sinyal perubahan sudah terasa. Jawaban sesungguhnya akan ditentukan oleh waktu—dan oleh kemampuan Arbeloa menjaga keseimbangan antara keberanian menyerang dan kestabilan permainan.
Awal yang Tidak Ramah bagi Pelatih Baru
| Jude Bellingham merayakan gol keenam timnya dalam laga Liga Champions antara Real Madrid vs Monaco di Madrid, 21 Januari 2026 (c) AP Photo/Jose Breton |
Debut Alvaro Arbeloa sebagai pelatih Real Madrid langsung diuji keras. Los Blancos tumbang 2-3 dari Albacete di babak 16 besar Copa del Rey, hasil yang seketika meredam antusiasme awal era baru di Bernabeu dan mengundang sorotan tajam publik.
Kekalahan itu menyingkap wajah Madrid yang kontras. Di satu sisi, permainan ofensif terlihat berani dan agresif. Namun di sisi lain, kerapuhan muncul setiap kali bola hilang. Transisi bertahan yang lambat dan kurangnya kontrol detail kecil menjadi celah yang dimanfaatkan lawan secara efektif.
Tekanan belum sepenuhnya mereda saat Madrid kembali tampil di kandang sendiri pada lanjutan La Liga kontra Levante. Kemenangan 2-0 memang berhasil diamankan, tetapi suasana di Santiago Bernabeu justru terasa dingin. Siulan dan cemoohan mengiringi jalannya laga, menandakan ketidakpuasan publik.
Reaksi suporter tersebut mengirim pesan yang jelas. Di Real Madrid, hasil positif saja tidak cukup. Para penggemar menuntut keyakinan, identitas permainan, dan rasa dominasi—bukan sekadar kemenangan tanpa jiwa.
Pesta Gol yang Mengubah Narasi
| Kylian Mbappe merayakan gol kedua timnya bersama Vinicius Junior dalam laga Liga Champions antara Real Madrid vs AS Monaco di Santiago Bernabeu, 21 Januari 2026 (c) AP Photo/Jose Breton |
Situasi berubah drastis di pentas Liga Champions. Real Madrid tampil beringas saat melumat AS Monaco 6-1, sebuah kemenangan yang seketika menggeser suasana dari skeptis menjadi penuh harapan. Tempo tinggi, agresivitas tanpa ragu, dan keberanian mengambil risiko menjadi benang merah penampilan Madrid di laga ini.
Lini serang Los Blancos tampil eksplosif. Kylian Mbappe memimpin agresi dengan kecepatan dan ketajamannya, Vinicius Junior kembali menghadirkan teror dari sisi sayap, sementara Jude Bellingham mengontrol ritme sekaligus menusuk dari lini kedua. Kombinasi ketiganya membuat pertahanan Monaco kewalahan sepanjang pertandingan.
Enam gol yang tercipta terasa lebih dari sekadar pesta skor. Madrid tampak menikmati sepak bola menyerang yang langsung, dinamis, dan penuh ekspresi—sesuatu yang sempat hilang dalam dua laga awal Arbeloa.
Namun, euforia ini belum boleh menjadi kesimpulan akhir. Tiga pertandingan masih terlalu singkat untuk memberi vonis besar. Arbeloa memang mendapatkan suntikan kepercayaan, tetapi ujian sesungguhnya baru akan datang: menjaga konsistensi di tengah tekanan, ekspektasi, dan jadwal padat yang menanti di depan.
Bagaimana reaksi Anda?
0 Komentar